Tiga gelombang internasionalisasi yaitu : perdagangan
bebas, standarisasi mutu dan hak kekayaan intelektual adalah sebuah fenomena neo
imperialisme yang telah berhasil “memaksa” semua negara untuk menerima dan
melaksanakannya.
Perdagangan bebas yang merupakan penjelmaan
pasar bebasnya Adam Smith berkembang
begitu pesatnya ketika paham kapitalisme menumbangkan paham-paham ekonomi yang
lain seperti merkantilisme, proteksionisme, isolasionisme dan sosialisme.
Kemenangan Amerika Serikat atas Uni Soviet dalam perang dingin pun menjadikan
paham kapitalisme berkembang pesat tak terbendung.
Perdagangan bebas yang menolak
keras akan adanya kebijakan tarif dan non tarif atas barang export/import, mengakibatkan
kebijakan perlindungan produsen dalam negeri sudah tidak bisa dilakukan. Untuk
perdagangan bebas ASEAN (AFTA), penghapusan tarif itu sudah dimulai sejak tahun
1992 dan secara bertahap harus sudah 0% pada tahun 2015, hal ini berarti bahwa
pada tahun itu seluruh anggota ASEAN boleh memperdagangkan secara bebas
kenegara anggotanya tanpa adanya barrier
(penghalang) baik tarif ataupun regulasi lainnya. Pada tahun itu juga dengan
adanya perjanjian AFTA-CHINA maka produk-produk China juga akan membanjiri
pasar ASEAN lebih leluasa. Pada tahun 2015 produk-produk pertanian kita akan
mendapat persaingan amat berat dari Negara Negara lain, sebagai contoh beras
kita akan sulit bersaing dimana harga
beras Thailand dengan mutu Kadar air 14% dan kadar broken 5% hanya Rp. 4.990,-
sedangkan harga beras kita dengan mutu sama bisa dua kali lipatnya.
Tahun 2015 bisa jadi tahun “penuh
persaingan” antara Negara-negara ASEAN, pondasi ekonomi kita akan diuji siapa
yang paling efisien, efektif dan berdaya saing, maka siapa yang paling siap
merekalah pemenangnya, lalu pertanyaannya adalah “sudah siapkah kita?”.
Jawabannya adalah harus siap atau harus kita persiapkan.
Kembali kepada tiga gelombang
internasionalisasi diatas yaitu perdagangan bebas, standarisasi mutu dan hak
kekayaan intelektual, bisa “memaksa” Negara-negara di dunia untuk ikut
menyetujui dan mengamininya karena ketiganya mempunyai alasan yang kuat dan
rasional, untuk perdagangan bebas adalah hak asasi konsumen untuk mendapatkan
barang yang berkualitas dengan harga wajar, untuk standarisasi mutu adalah hak asasi
konsumen untuk mendapatkan barang yang terjamin dan dijamin kualitasnya oleh
instansi yang berwenang, sedangkan Hak Kekayaan Intelektual adalah hak asasi
produsen harus dilindungi atas inovasi dan temuannya. Ketiga alasan tersebut
sangat rasional dan baik, tidak baiknya adalah bagi Negara miskin dan
berkembang aturan itu sama dengan membunuh daya tumbuh dan daya kembangnya,
belajar dari kebangkitan Jepang dengan restorasi Meiji-nya dimana Kaisar Meiji
mampu mengakselerasikan perkembangan teknologi dengan mengadopsi teknologi dari
Amerika dengan menerapkan prinsip ATM (amati, tiru, dan modifikasi) dengan
membeli teknologi dari Amerika,membongkar dan menirunya, Jepang bisa menjadi
Negara Industri terbesar dunia, demikian juga Negara Korea Selatan,dan China
semua menerapkan prinsip ATM. Permasalahan selanjutnya adalah bagaimana Nasib
Negara-negara lain yang “terlambat berkembang” (termasuk Indonesia) karena
penerapan HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) itu ?
Indonesia dengan 13.000 pulau
dengan bentangan daratan seluas 2 juta km2 yang tanahnya subur merupakan
potensi ekonomi yang luar biasa, apabila dikelola dengan baik dengan
memanfaatkan teknologi secara optimal maka akan memberikan dampak kesejahteraan
yang besar, belum lagi bila kita mampu mereposisi pertanian kita bukan hanya on
farm (budidaya) tapi sudah mengarah kepada industry maka tidak akan salah 15
tahun lagi Indonesia akan menjadi Negara ekonomi terbesar 3 dunia.
Pertanyaannya selanjutnya adalah Indonesia yang mana yang berpotensi akan
AgroIndustri ini ? Jawaban saya sementara adalah Provinsi Jawa Timur, karena
memang Jawa Timur adalah gudangnya pangan nasional, dan apabila pertanyaannya
di teruskan kabupaten mana yang berpotensi menjadi pusat Agroindustri ? maka
jawaban saya adalah Kabupaten Bojonegoro, mengapa Bojonegoro, bukan hanya
karena saya tinggal disini dan mem”baiat” diri sebagai insan agroindustri,
tetapi Kabupaten ini mempunyai potensi besar sebagai pusat agroindustri dunia
pertama lahan sawahnya mempunyai luasan panen 133.555 Ha dengan potensi padinya
800.522 ton GKG (Gabah Kering Giling). Kedua lahan tegalnya 3368 Ha dengan
potensi ketela pohon 98015 ton. ketiga tidak mempunyai laut, sehingga bisa 100%
konsen terhadap agroindustri. Keempat dikelilingi kabupaten-kabupaten penghasil
produk-produk pertanian seperti Lamongan, Nganjuk, Tuban dan Blora. Kelima
mempunyai Perguruan Tinggi Negeri (Akademi Komunitas) sebagai pabrik SDM bidang
agroindustri. Keenam dan ini yang sangat luar biasa, potensi dari minyaknya
bisa sampai 210 milyar perhari atau 75,6 Trilliun per tahun pada
saat produksi puncaknya.
Bojonegoro dengan pendapatan
sebesar itu hampir tidak ada yang tidak bisa dibeli, maka hemat saya Bojonegoro
ke depan harus menitik beratkan pembangunan dan menjadikan Agroindustri sebagai
pembangunan unggulan daerahnya, mengapa ? pertama agroindustri meningkatkan
lapangan kerja, kedua meningkatkan diversifikasi produk, ketiga mengurangi arus
urbanisasi, keempat meningkatkan akumulasi capital di pedesaan, kelima
meningkatkan nilai tambah, dan keenam meningkatkan kesejahteraan petani.
Agroindustri yang bagaimana yang
seharusnya dibangun di Bojonegoro ? pertama : agroindustri yang dibangun
kedepan haruslah agroindustri yang berkelas dunia dengan teknologi yang paling
modern saat ini (karena daya saing suatu perusahaan sangat berbanding lurus
dengan teknologinya), sebagai contoh pembangunan pabrik sorbitol sekelas PT. Sorini,
dimana Indonesia adalah pemasok sorbitol kedua terbesar setelah Prancis, maka
dengan dibangunnya pabrik Sorbitol di Bojonegoro Prancis harus bergeser. Kedua
Tenaga Ahlinya juga harus berkelas dunia, kita cari orang-orang yang expert di
bidangnya, bersamaan dengan tersebut, kita siapkan SDM nya dari Akademi Komunitas
sebagai SDM alih pengetahuannya
(transfer knowledge).
Komoditas pertanian yang minimal menjadi
unggulan di kerjakan adalah : padi dan ketela pohon, mengapa padi? Karena selain
potensi produksi padi cukup besar, revitalisasi agroindustri padi ini masih
mempunyai peluang memberikan tambahan pendapatan sebesar 650 milyar per tahun,
sedangkan agroindustri ketela pohon bisa memberikan tambahan pendapatan 23,4 milyar
pertahun, apabila dijual dalam bentuk bioethanol, selain itu agroindustri ini masih
akan memberikan efek domino yang luar biasa karena dari ketela pohon ini dapat
dibuat produk turunannya sebanyak 150 produk seperti maltodextrin, glucose,
fructose, sorbitol, ethanol dan asam asetat, sedangkan limbahnya bisa dibuat
asam sitrat.
Produk produk bernilai tinggi dari ketela pohon tersebut sebagianbesar masih di import, import kita akan maltodextrin
sebesar 370.000 ton (2009) dengan harga per kg Rp. 20.000,- maka nilai import
kita sebesar Rp. 7,4 Trilliun. Import asam asetat kita sebesar 104.391 ton (2010) dengan
harga per kg Rp. 30.000,- total nilai Rp. 3,14 Trilliun sedangkan import akan
asam sitrat sebesar 86.851 ton (prediksi 2013) dengan harga per kg Rp.
22.000,- total nilai sebesar Rp. 1,9
Trilliun. Hal ini menunjukkan komoditas agroindustri masih sangat dibutuhkan
oleh pasar dunia.
Dengan berdirinya agroindustri
bertaraf internasional di Bojonegoro, pemberdayaan petani akan lebih mudah,
petani akan mendapat kepastian pasar dari produknya, system pemberdayaan inti
plasma bisa dilakukan, system harga
(Harga Minimal Regional) akan dapat ditentukan, terlebih lagi apabila
ada kesempatan petani untuk memiliki saham, maka NTP petani akan naik sangat
tajam, kesejahteraan tercapai dan Ruh “Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur”
akan terpancar ke seluruh Nusantara. Hidup Bojonegoro, kebangkitan Indonesia
dimulai dari kabupaten ini. Semoga.
**Penulis
adalah :
Staf
DisPerta Bojonegoro
Alumni Magister Teknologi Industri Pertanian Unibraw
Artikel bagus, maju Bojonegoroku...
BalasHapusterima kasih komentarnya, sampai lupa kalau saya punya blog. (karena lama tidak update) hehehe
BalasHapusAncaman sekaligus ancaman pakde....
BalasHapus